Public Expose JARR 2026: Perkuat Pasokan CPO Internal hingga 25 Persen, Siap Manfaatkan Peluang B40 dan B50

banner 468x60

METROPOS.COM, Jakarta, 17 Juni 2026 – PT Jhonlin Agro Raya Tbk (IDX: JARR) menyampaikan optimisme terhadap prospek bisnis dan kinerja perusahaan sepanjang tahun 2026 dalam gelaran Public Expose Tahunan yang diselenggarakan di Priority Sky Ballroom 1, Lantai 26, Hotel Aston Priority Simatupang, Jakarta Selatan, Rabu (17/6).

Kegiatan Public Expose tersebut dihadiri oleh jajaran Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan, yaitu Komisaris Utama Jhony Saputra, Komisaris Bambang Aria Wisena, Komisaris Independen Usman Ali Purnomo, Komisaris Independen I Nyoman Jendrika, Direktur Utama Indra Irawan, serta Direktur Keuangan Temmy Iskandar.

banner 336x280

Dalam pemaparannya, manajemen menyampaikan bahwa JARR berada pada posisi yang strategis untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan industri biodiesel nasional yang didorong implementasi program mandatori B40 serta rencana peningkatan campuran biodiesel menuju B50.

Direktur Utama JARR Indra Irawan mengatakan bahwa perusahaan akan fokus meningkatkan efisiensi operasional, optimalisasi kapasitas produksi, serta memperkuat integrasi bisnis dari sektor perkebunan hingga hilirisasi produk sawit.

“Kami melihat peluang pertumbuhan yang sangat besar seiring meningkatnya kebutuhan biodiesel nasional. Fokus perusahaan pada tahun 2026 adalah meningkatkan utilisasi pabrik biodiesel, memperbesar kontribusi bahan baku internal, serta menjaga efisiensi biaya sehingga dapat memberikan nilai tambah yang optimal bagi pemegang saham,” ujar Indra Irawan dalam Public Expose.

Perjalanan Transformasi Perseroan

PT Jhonlin Agro Raya Tbk memulai perjalanan bisnisnya pada tahun 2014 dengan pendirian perusahaan. Pada 2016 perusahaan mulai mengembangkan perkebunan kelapa sawit sebagai fondasi bisnis hulu.

Langkah transformasi besar dilakukan pada tahun 2021 melalui pembangunan dan pengoperasian pabrik biodiesel berkapasitas 1.500 ton per hari (TPD), yang menjadi salah satu aset utama perusahaan dalam mendukung program energi terbarukan nasional.

Pada tahun 2022, JARR resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia melalui Penawaran Umum Perdana Saham (IPO). Pada tahun yang sama, perusahaan juga menyelesaikan pembangunan pabrik minyak goreng berkapasitas 250 ton per hari dan pabrik kelapa sawit berkapasitas 60 ton per jam.

Tahun 2023 menjadi momentum penting lainnya dengan penggabungan usaha bersama PT Jhonlin Agro Lestari dan perpindahan papan pencatatan saham dari papan pengembangan ke papan utama Bursa Efek Indonesia.

Pada tahun 2024, Perseroan masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2024. Selanjutnya pada tahun 2025, perusahaan mulai mengoperasikan 40 unit truk listrik guna mendukung aktivitas logistik dan operasional yang lebih efisien serta ramah lingkungan.

Komposisi Pemegang Saham

Dalam Public Expose tersebut, manajemen juga memaparkan struktur pemegang saham Perseroan per tahun 2026.

PT Eshan Agro Sentosa tercatat sebagai pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sebesar 86,64 persen atau sekitar 7,99 miliar saham.

Masyarakat atau publik memiliki porsi kepemilikan sebesar 13,25 persen atau sekitar 1,22 miliar saham.

Sementara PT Sinar Bintang Mulia memiliki kepemilikan sebesar 0,07 persen dan PT Jhonlin Agro Mandiri sebesar 0,04 persen.

Jumlah saham Perseroan setelah penggabungan usaha tercatat sebanyak 9,23 miliar lembar saham.

Prospek Biodiesel Nasional Menjadi Katalis Pertumbuhan

Manajemen menilai prospek industri biodiesel Indonesia masih sangat menjanjikan mengingat Indonesia merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Sejak penerapan program mandatori biodiesel mulai dari B20, B30, B35 hingga B40, kebutuhan biodiesel nasional terus meningkat. Pemerintah bahkan menargetkan implementasi B50 mulai 1 Juli 2026, meskipun pelaksanaannya masih mempertimbangkan kesiapan industri, hasil uji teknis, dan dukungan pendanaan.

Menurut Perseroan, program biodiesel memberikan manfaat yang luas, mulai dari pengurangan impor solar, peningkatan ketahanan energi nasional, penguatan harga minyak sawit domestik, hingga peningkatan kesejahteraan petani sawit.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa pada tahun 2025 implementasi program B40 membutuhkan kapasitas produksi biodiesel sebesar 15,6 juta kiloliter atau sekitar 81,5 persen dari kapasitas terpasang nasional yang mencapai 19,15 juta kiloliter.

Sementara kebutuhan CPO untuk mendukung program tersebut mencapai sekitar 14,2 juta kiloliter.

Aset dan Infrastruktur Terintegrasi

Sebagai perusahaan agroindustri terintegrasi, JARR memiliki berbagai aset strategis yang mendukung operasional dari hulu hingga hilir.

Perseroan mengoperasikan pabrik biodiesel dengan kapasitas 1.500 ton per hari yang menjadi tulang punggung bisnis biodiesel perusahaan.

Selain itu, perusahaan memiliki pabrik minyak goreng dengan kapasitas 250 ton per hari dan pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 60 ton per jam.

Di sektor perkebunan, JARR memiliki lahan Hak Guna Usaha (HGU) seluas 27.936 hektare dengan luas area tanam mencapai 18.044 hektare.

Perusahaan juga didukung oleh infrastruktur perumahan karyawan serta pelabuhan afiliasi yang mampu melayani kapal dengan kapasitas satu unit 10.000 DWT dan tiga unit 5.000 DWT.

Keberadaan aset-aset tersebut memberikan efisiensi logistik sekaligus memperkuat integrasi rantai pasok perusahaan.

Kinerja Keuangan Tetap Solid

Direktur Keuangan Temmy Iskandar menjelaskan bahwa kondisi keuangan Perseroan hingga kuartal pertama 2026 tetap terjaga dengan baik.

Total aset perusahaan tercatat sebesar Rp3,96 triliun pada kuartal I 2026. Sementara total ekuitas mencapai Rp1,96 triliun dan total liabilitas sebesar Rp2 triliun.

Sepanjang tahun buku 2025, Perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp4,28 triliun.

Laba bruto tercatat sebesar Rp750,29 miliar, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp481,29 miliar.

Laba usaha mencapai Rp454,95 miliar, sedangkan laba sebelum pajak sebesar Rp343,55 miliar.

Perseroan membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp268,48 miliar pada tahun 2025 dengan EBITDA mencapai Rp632,09 miliar.

Manajemen menyebut peningkatan laba tersebut didorong oleh efisiensi biaya produksi, peningkatan margin usaha, serta pengelolaan operasional yang lebih efektif.

Rasio Keuangan Semakin Sehat

Kinerja keuangan yang membaik juga tercermin pada sejumlah rasio keuangan Perseroan.

Current ratio meningkat menjadi 4,85 kali pada kuartal I 2026 dibandingkan 4,34 kali pada tahun 2025.

Gross profit margin naik menjadi 17,53 persen pada tahun 2025 dan meningkat lagi menjadi 18,39 persen pada kuartal pertama 2026.

EBITDA margin mencapai 14,77 persen pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 16,57 persen pada kuartal pertama 2026.

Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 14,01 persen pada tahun 2025 dari 5,36 persen pada tahun 2023.

Sementara Debt to Equity Ratio (DER) terus membaik dari 1,53 kali pada 2023 menjadi 1,10 kali pada 2025 dan turun menjadi 1,02 kali pada kuartal pertama 2026.

Target dan Strategi Tahun 2026

Manajemen memaparkan sejumlah langkah strategis yang akan dilakukan untuk meningkatkan kinerja perusahaan pada tahun 2026.

Pertama, meningkatkan utilisasi pabrik biodiesel hingga mencapai 60–70 persen guna meningkatkan volume produksi dan efisiensi operasional.

Kedua, meningkatkan kontribusi pasokan CPO internal yang saat ini mencapai sekitar 17 persen menjadi 20–25 persen dari total kebutuhan CPO yang diolah.

Langkah tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap pembelian bahan baku eksternal sekaligus meningkatkan efisiensi biaya produksi.

Ketiga, memperluas penjualan produk minyak goreng yang saat ini telah dipasarkan di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Keempat, mengoptimalkan seluruh sumber daya perusahaan untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas operasional, dan profitabilitas.

Tantangan Industri Masih Perlu Diantisipasi

Di tengah prospek yang positif, Perseroan tetap mewaspadai sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi kinerja perusahaan.

Tantangan tersebut meliputi fluktuasi harga TBS dan CPO, perubahan regulasi pemerintah terkait biodiesel dan insentif industri, serta kebijakan levy ekspor terhadap produk turunan sawit seperti Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) dan Crude Glycerine.

Selain itu, perusahaan juga berkomitmen memenuhi ketentuan free float Bursa Efek Indonesia yang mensyaratkan kepemilikan publik minimal 12,5 persen pada Maret 2027 dan meningkat menjadi 15 persen pada Maret 2028.

Untuk memenuhi ketentuan tersebut, Perseroan menyiapkan berbagai alternatif strategi termasuk divestasi bertahap di pasar reguler maupun melalui private placement kepada investor strategis non-afiliasi.

Optimistis Menyambut Pertumbuhan Berkelanjutan

Dengan dukungan aset terintegrasi, kapasitas produksi yang besar, struktur keuangan yang semakin kuat, serta meningkatnya kebutuhan biodiesel nasional, PT Jhonlin Agro Raya Tbk optimistis dapat melanjutkan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan pada tahun 2026.

Perseroan menilai peningkatan utilisasi pabrik biodiesel, efisiensi operasional, penguatan pasokan CPO internal, serta ekspansi produk hilir akan menjadi motor utama pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan dalam jangka menengah dan panjang, sekaligus memperkuat posisi JARR sebagai salah satu pemain strategis dalam industri biodiesel dan agroindustri nasional.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *