JAKARTA – Ketua Perempuan Amanat Nasional (PUAN), Farah Puteri Nahila, B.A, M.Sc, menyampaikan sambutan penuh semangat dan apresiasi dalam acara pelantikan pengurus PUAN. Dalam sambutannya, Farah menyoroti antusiasme luar biasa dari para kader perempuan yang hadir hingga melampaui kapasitas gedung yang disediakan.
Farah menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Ketua Umum DPP PAN, Zulkifli Hasan (Zulhas), lantaran ruangan yang berkapasitas sekitar 1.200 orang tersebut tidak mampu menampung seluruh kader. Faktanya, ada lebih dari 1.600 kader hebat Perempuan Amanat Nasional dari berbagai daerah di Indonesia yang menyatakan siap hadir.
”Hari ini saya belajar satu hal, ternyata kalau perempuan sudah punya semangat yang sama dan bersatu, maka kapasitas gedunglah yang kewalahan,” ujar Farah disambut gemuruh tepuk tangan para hadirin.
Dalam kesempatan tersebut, Farah juga menceritakan bagaimana kerja nyata Zulkifli Hasan melalui program “Bantu Rakyat” mendapatkan tempat di hati masyarakat luas. Ia menegaskan bahwa pemimpin yang paling dicintai rakyat bukanlah yang paling sering tampil, melainkan pemimpin yang paling sering hadir di tengah masyarakat.
PAN pun dinilai telah memberikan teladan bahwa politik terbaik adalah politik yang menghadirkan manfaat dan kerja nyata, bukan sekadar pandai berbicara.
Farah juga menyampaikan rasa terima kasih dan penghormatan setinggi-tingginya kepada para tokoh perempuan PAN terdahulu, termasuk Ketua Umum PUAN periode 2019-2024, Puan Intan Fauzi, serta jajaran pengurus sebelumnya. Ia menegaskan bahwa estafet kepemimpinan ini bukan sekadar mengganti figur, melainkan untuk menyempurnakan perjalanan organisasi.
Lebih lanjut, Farah menyatakan bahwa PUAN bukanlah sekadar organisasi yang dibentuk agar foto perempuan lebih banyak dipajang, bukan sekadar pelengkap struktur, dan bukan hiasan demokrasi.
PUAN adalah rumah bagi perempuan-perempuan yang berpikir, bekerja, dan siap mengambil tanggung jawab. Di hadapan para kader yang memiliki latar belakang beragam—mulai dari akademisi, dokter, guru, pelaku UMKM, aktivis sosial, profesional, politisi, legislator, hingga ibu rumah tangga—Farah mengajak seluruh perempuan untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan.
Mengutip pernyataan peraih Nobel, Muhammad Yunus, Farah menekankan bahwa jika pembangunan bertujuan untuk mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup, maka perempuan harus menjadi titik awalnya.
“Jika Anda mendidik seorang pria, Anda mendidik seorang individu. Tetapi jika Anda mendidik seorang wanita, Anda mendidik sebuah bangsa,” tuturnya.
Farah mengibaratkan Perempuan Amanat Nasional seperti cahaya yang tidak pernah bertanya siapa yang akan disinarinya, melainkan memilih untuk terus menerangi siapa saja tanpa terkecuali.
Di akhir sambutannya, Farah mengajak seluruh kader PUAN di seluruh pelosok Indonesia untuk merawat amanah dengan kerja nyata, bukan sekadar kata-kata. Beliau optimis, selama PUAN konsisten menjaga kepercayaan rakyat dan hadir saat dibutuhkan, jalan PAN menuju posisi tiga besar bukan lagi sekadar target politik, melainkan buah dari ikhtiar bersama yang diridai.



















